<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Komang Adi</title>
	<atom:link href="http://komangadi.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://komangadi.net</link>
	<description>Memberi arti bagi negeri</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Nov 2009 15:29:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Repost: Mengelola Organisasi Non Profit</title>
		<link>http://komangadi.net/2009/11/repost-mengelola-organisasi-non-profit/</link>
		<comments>http://komangadi.net/2009/11/repost-mengelola-organisasi-non-profit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 08:50:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komang adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Non Profit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komangadi.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Wikipedia Indonesia, organisasi nirlaba atau organisasi non profit adalah suatu organisasi yang bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal didalam menarik perhatian publik untuk suatu tujuan yang tidak komersial, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (moneter). Organisasi nirlaba meliputi gereja, sekolah negeri, derma publik, rumah sakit dan klinik publik, organisasi [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://komangadi.net/2007/11/mengelola-organisasi-nonprofit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengelola Organisasi Nonprofit'>Mengelola Organisasi Nonprofit</a></li><li><a href='http://komangadi.net/2008/07/mengelola-organisasi-non-profit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Konsistensi dalam Mengelola Organisasi Non Profit'>Konsistensi dalam Mengelola Organisasi Non Profit</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-152" title="Logo Round-small" src="http://komangadi.net/wp-content/uploads/2009/11/Logo-Round-small-300x300.jpg" alt="Logo Round-small" width="181" height="181" />Menurut Wikipedia Indonesia, organisasi nirlaba atau organisasi non profit adalah suatu organisasi yang bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal didalam menarik perhatian publik untuk suatu tujuan yang tidak komersial, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (moneter). Organisasi nirlaba meliputi gereja, sekolah negeri, derma publik, rumah sakit dan klinik publik, organisasi politis, bantuan masyarakat dalam hal perundang-undangan, organisasi jasa sukarelawan, serikat buruh, asosiasi profesional, institut riset, museum, dan beberapa para petugas pemerintah. <span id="more-63"></span></p>
<p>Karakter dan tujuan dari organisasi non profit menjadi jelas terlihat ketika dibandingkan dengan organisasi profit. Organisasi non profit berdiri untuk mewujudkan perubahan pada individu atau komunitas, sedangkan organisasi profit sesuai dengan namanya jelas-jelas bertujuan untuk mencari keuntungan. Organisasi nonprofit menjadikan sumber daya manusia sebagai asset yang paling berharga, karena semua aktivitas organisasi ini pada dasarnya adalah dari, oleh dan untuk manusia.</p>
<p>Organisasi profit memiliki kepentingan yang besar terhadap berkembangnya organisasi nirlaba. Dari onganisasi inilah sumber daya manusia yang handal terlahir, memiliki daya saing yang tinggi, aspek kepemimpinan, serta sigap menghadapi perubahan. Hampir diseluruh dunia ini, organisasi nirlaba merupakan agen perubahan terhadap tatanan hidup suatu komunitas yang lebih baik. Daya jelajah mereka menyentuh pelosok dunia yang bahkan tidak bisa terlayani oleh organisasi pemerintah. Kita telah saksikan sendiri, bagaimana efektifnya daya jelajah organisasi nirlaba ketika terjdi bencana tsunami di Aceh, ratusan organisasi nirlaba dari seluruh dunia seakan berlomba membuat prestasi tehadap proyek kemanusiaan bagi masyarakat Aceh. Organisasi profit juga mendapatkan keuntungan langsung dengan majunya komunitas, mereka mendapatkan market yang terus bertumbuh karena daya beli komunitas yang kian hari kian berkembang atas pembinaan organisasi nirlaba.</p>
<p>Di Indonesia, sebagian besar organisasi non profit dalam keadaan lesu darah. Mereka sesuai dengan namanya kebanyakan miskin dana. Perbedaan mencolok terlihat dengan organisasi non profit yang memiliki induk di luar negeri. Kondisi ini sudah pasti memberi pengaruh terhadap quantitas dan qualitas dari gerak roda organisasi.</p>
<p>Seharusnya organisasi non profit tidak jauh beda dengan organisasi profit, harus memiliki mission statement yang jelas, fokus dan aplikatif. Pernyataan misi organisasi sebaiknya sederhana dan mudah dipahami oleh stake holder organisasi. Kelemahan dari organisasi nirlaba Indonesia adalah tidak fokusnya misi. Sering misi dibuat dengan pilihan kata yang mengambang dan dapat multitafsir. Kalau kita sortir berdasarkan kata, maka kata yang paling banyak muncul barangkali kata sejahtera, adil, merata, berkesinambungan. Misi ini selanjutnya diterjemahkan kedalam sasaran-sasaran yang biasanya akan menjadi makin meluas dan tidak fokus. Kondisi ini juga berimbas pada rancangan struktur organisasi nirlaba Indonesia. Struktur organisasinya memasukkan semua bidang, rata-rata memiliki lebih dari 20 bidang. Banyak yang masih mengadaptasi organisasi politik karena dijaman orde baru hampir semua organisasi nonprofit yang berdiri menjadi underbow partai Golkar.</p>
<p>Masyarakat sekarang ini sudah dengan mudah mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia, mereka juga dengan mudah menjalin komunikasi serta menjadi anggota organisasi nirlaba asing. Disamping itu, komunitas yang tumbuh dan berkembang di dunia maya sendiri, telah menarik populasi yang sangat besar. Makin hari, organisasi konvensional makin ditinggalkan, yang dapat berkompetisi kedepan hanyalah organisasi yang mampu mengkombinasikan aktivitasnya dengan teknologi informasi.</p>
<p>Kepemimpinan di seluruh organisasi memegang peranan yang vital, demikian pula dalam organisasi nirlaba. Kriteria pemimpin organisasi nirlaba yang paling utama adalah memiliki kemauan. Dalam konteks ini, pemimpin harus memiliki niat dan bukan dipaksa oleh orang lain. Dengan memiliki kemauan, otomatis akan memiliki pandangan terhadap apa saja yang harus dikerjakan dikemudian hari, serta mengetahui konsekwensi atas pengorbanan yang harus dijalani sebagai pemimpin organisasi nirlaba. Kriteria kedua adalah memiliki kapasitas untuk mendengar dan menyelesaikan permasalahan. Mendengar merupakan kriteria yang penting bagi pemimpin dalam organisasi nirlaba karena pemimpin akan selalu berinteraksi dengan banyak orang, mulai dari para relawan sampai dengan orang-orang yang menjadi objek dari organisasi. Kriteria ketiga adalah memiliki kemampuan mengkader. Dengan mengkader maka keberlangsungan organisasi akan dapat terjamin. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang bukan menghambat kemunculan kader-kader yang lebih muda, tetapi justru memberi inspirasi dan motivasi bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang. Sesungguhnya pemimpin yang berhasil mengkader adalah pemimpin yang berhasil membesarkan namanya sendiri secara tidak langsung. Kriteria keempat adalah memiliki kemampuan dalam hal pengumpulan dana. Hal ini sangat terkait dengan kemampuan determinasi serta kecerdasan pemimpin dalam merajut relasi antara donatur, volunteer dan masyarakat. Organisasi nirlaba telah banyak yang mengaplikasikan kriteria-kriteria tersebut untuk memilih pemimpinnya. Tapi sayang karena belum memiliki managemen pengumpulan dana yang baik, kriteria kemampuan finansial dari calon pemimpin sering dikedepankan.</p>
<p>Hitler dalam perang dunia pertama menyatakan bahwa yang paling penting dalam perang adalah uang, yang kedua adalah uang dan yang ketiga adalah uang. Memang uang penting bagi organisasi non profit, tapi mengelola organisasi non profit tentunya berbeda dengan mengelola armada perang. Dalam organisasi non profit, dibutuhkan manajemen pengumpulan dana yang bersifat jangka panjang. Istilah fund rising di organisasi nirlaba sebenarnya lebih tepat kalau disebut sebagai fund development. Istilah ini signifikan karena bukan hanya dana yang menjadi perhatian tetapi juga orang-orang yang terlibat sebagai donatur dan volunteer juga menjadi perhatian utama untuk membangun dukungan yang bersifat jangka panjang.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://komangadi.net/2007/11/mengelola-organisasi-nonprofit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengelola Organisasi Nonprofit'>Mengelola Organisasi Nonprofit</a></li><li><a href='http://komangadi.net/2008/07/mengelola-organisasi-non-profit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Konsistensi dalam Mengelola Organisasi Non Profit'>Konsistensi dalam Mengelola Organisasi Non Profit</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komangadi.net/2009/11/repost-mengelola-organisasi-non-profit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tantangan Menggulirkan BDDN</title>
		<link>http://komangadi.net/2009/10/tantangan-menggulirkan-bddn/</link>
		<comments>http://komangadi.net/2009/10/tantangan-menggulirkan-bddn/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 01:37:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komang adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Activities]]></category>
		<category><![CDATA[Non Profit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komangadi.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[<em><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-110" title="Logo BDDN" src="http://komangadi.files.wordpress.com/2009/10/logo.jpg?w=126" alt="Logo BDDN" width="126" height="150" />“ Anak yang terlahir dari ibu bermasalah
sedikit banyak akan kena getah masalah”
</em>
Badan Dharma Dana Nasional (BDDN) diluncurkan di tengah keprihatinan umat akan eksistensi Parisada. Pecahnya Parisada yang terjadi di Bali adalah pukulan yang telak terhadap citra organisasi karena Bali merupakan barometer perkembangan Hindu di Indonesia. Terkatung-katungnya penuntasan inventarisasi asset-aset Parisada ditambah dengan lepasnya kepemilikan Media Hindu yang dikembangkan atas goodwill Parisada menambah arang yang mencoreng citra organisasi.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-110" title="Logo BDDN" src="http://komangadi.files.wordpress.com/2009/10/logo.jpg?w=126" alt="Logo BDDN" width="126" height="150" />“ Anak yang terlahir dari ibu bermasalah<br />
sedikit banyak akan kena getah masalah”<br />
</em><br />
Badan Dharma Dana Nasional (BDDN) diluncurkan di tengah keprihatinan umat akan eksistensi Parisada. Pecahnya Parisada yang terjadi di Bali adalah pukulan yang telak terhadap citra organisasi karena Bali merupakan barometer perkembangan Hindu di Indonesia. Terkatung-katungnya penuntasan inventarisasi asset-aset Parisada ditambah dengan lepasnya kepemilikan Media Hindu yang dikembangkan atas goodwill Parisada menambah arang yang mencoreng citra organisasi.<span id="more-109"></span></p>
<p>Setelah soft launching di Jakarta pada 16 September 2007 dan grand launching di Bali pada tanggal 3 November 2007, resmi sudah badan baru ini bertugas. Sebagai badan resmi Parisada yang bertugas sebagai pengumpul dharma dana (dana punia) umat Hindu, BDDN memiliki tantangan yang sangat berat. Tantangan pertama adalah belum familiarnya umat Hindu akan istilah dharma dana. Sebuah istilah yang tidak ada dalam mata pelajaran agama Hindu anak sekolahan. Beda sekali tingkat populernya dengan istilah dana punia yang sudah familiar di umat Hindu Bali. Kenapa tidak memakai istilah dana punia saja? Lebih disebabkan karena memperhatikan faktor istilah Hindu yang bercita rasa Nusantara. Istilah dana punia adalah istilah Bali. Perlu ada istilah baru yang menasional.</p>
<p>Diperlukan hampir dua tahun lamanya untuk bisa memperkenalkan istilah Dharma Dana kepada umat Hindu khususnya didaerah perkotaan. Umat yang berada di Jabodetabek dan kota-kota besar di indonesia merupakan target prioritas pertama karena mereka dari tingkat pendidikan bisa dengan lebih mudah tersentuh akan teknologi. Selama dua tahun BDDN secara konsisten berusaha menyentuh langsung umat Hindu melalu pengiriman informasi via SMS, email dan newsletter. Pertemuan langsung melalui berbagai kelompok umat khususnya di Jabodetabek dan kota-kota besar secara intensif diselenggarakan. Sudah puluhan kali aproaching one to one dilaksanakan dengan mengundang para leader di kalangan umat Hindu makan siang atau makan malam bersama. Memang dibutuhkan kesabaran dan keuletan dalam memperkenalkan produk yang baru. Terlebih produk tersebut terkait dengan keumatan yang perlu keterlibatan nilai rasa dalam menentukan level partisipasi.</p>
<p>Tantangan kedua adalah merubah paradigma program Parisada. Tantangan ini sangatlah berat karena paradigma program Parisada selbelum sebelumnya adalah condong kegiatan vertikal (kepada Tuhan). Jarang sekali program-program horisontal (antar sesama manusia). Paradigma program akan digeser menjadi seimbang antara program vertikal dengan program horisontal. Dharma Dana yang terkumpul di BDDN akan disalurkan kepada program-program yang sifatnya horisontal untuk menjawab langsung kebutuhan umat Hindu Nusantara.</p>
<p>Satu tahun pertama tak terhitung banyaknya proposal kegiatan yang peruntukannya untuk kegiatan upacara khususnya ngenteg linggih dan perbaikan pura. Berat sekali rasanya harus menolak proposal-proposal program tersebut. Dalam standard operating procedure (SOP) yang telah ditandatangani bersama dengan Parisada, telah digariskan bahwa prioritas utama program adalah untuk kegiatan kemanusiaan. Program-program yang dananya masuk dari umat melalui BDDN haruslah memiliki nilai manfaat langsung kepada umat. Untuk itulah program prioritas yang dipilih adalah memberikan beasiwa bagi mahasiswa di lima perguruan tinggi terbaik di Indonesia yaitu  UI, ITB, UGM, ITS dan IPB. Program kedua adalah memberikan asuransi kepada para pandita dan pinandita di seluruh Nusantara. Banyak yang mempertanyakan, kenapa beasiswa diberikan kepada mahasiswa di universitas, bukan kepada siswa siswa SD,  SMP atau SMA. Pilihan ini lebih didasarkan atas kepentingan pragmatis. Kita harus secepatnya memiliki kader-kader umat Hindu yang bisa dicetak menjadi pemimpin. Dengan menghasilkan pemimpin dalam satu skenario pembinaan yang terencana, maka pengembangan keumatan akan memiliki laskar-laskar muda yang handal untuk 15-20 tahun kedepan. Disamping tentunya pertimbangan keterbatasan jumlah dharma dana yang terkumpul di rekening BDDN.</p>
<p>Tantangan ketiga adalah membangun profesionalisme BDDN. Sudah jamak dikalangan umat Hindu akan rendahnya kepercayaan terhadap organisasinya sendiri. Banyak yang merasa telah berbuat tapi tidak mengetahui arah perkembangannya. Banyak yang telah konsisten selalu mengikuti arahan Bhisama Parisada tetapi Parisada yang dijadikan panutan justru yang tidak konsisten. Matinya program yang memiliki tujuan yang sama yaitu Dana Punia Nyepi adalah sebuah case study tentang kegagalan dalam menjaga konsistensi dan profesionalisme organisasi.</p>
<p>Untuk mewujudkan profesionalisme BDDN dimulai dengan membangun sistem. BDDN adalah organisasi yang digerakkan oleh sistem. Karena itu menyelesaikan standard operating procedure (SOP) secara menyeluruh adalah sebuah kewajiban. Karena belum terbiasa bekerja dengan SOP, maka diawal awal banyak yang merasa terbatasi. Ada pengurus Parisada yang protes karena tidak bisa menggunakan dana yang ada di BDDN untuk membiayai tiket pesawat dalam acara Pesamuan Agung di Kendari. Sehingga dalam internal pengurus Parisada berhembus kesan bahwa BDDN adalah otoriter. ” Kan BDDN milik Parisada, kok Parisada sendiri susah menggunakan uang miliknya sendiri”. Menghadapi statement seperti itu dibutuhkan kesabaran untuk terus menerus memberikan pemahaman akan role of the game organisasi. Memang tidak mudah mewujudkan good corporate governance. Dibutuhkan banyak pengorbanan, salahsatunya adalah korban perasaan.</p>
<p>Tantangan keempat adalah dalam membangun tauladan. Bangsa Indonesia dan umat Hindu khususnya adalah tergolong masyarakat tauladan. Masyarakat yang bergerak karena adanya contoh positif dari para pemimpinnya. Dalam konteks membangkitkan partisipasi berdharma dana, umat Hindu perlu sekali mendapatkan tauladan dari para pemimpin-pemimpin lembaga keumatan. Sering sekali selama menggulirkan dharma dana dikalangan instansi keumatan baik swasta maupun negeri, umat terlebih dahulu melihat pimpinannya. Gairah pimpinan akan gerakan dharma dana merupakan sinyal positif bagi suksesnya dukungan partisipasi ke BDDN.<br />
Pekerjaan terbesar dalam menjawab tantangan ini adalah membuat seluruh pengurus BDDN membayar dharma dana. Lalu memperluas lingkaran tauladan kepada seluruh pengurus Parisada baik tingkat pusat maupun tingkat daerah. Selanjutnya lagi meningkat kepada pengurus-pengurus organisasi nasional bernafaskan Hindu.</p>
<p>Dibutuhkan kesabaran dan keuletan luar biasa dalam menggerakkan BDDN. Disamping itu, pemimpin BDDN mesti siap berkorban. Saat ini BDDN beruntung memiliki pimpinan yang visioner dan mau berkorban bagi organisasi. Jalan masih panjang, masih ada tahun-tahun kedepan yang menanti bagi perjalanan dan ujian terhadap konsistensi BDDN. Memang BDDN bukan dibangun untuk kepentingan jangka pendek, organisasi ini butuh nafas yang panjang demi sebuah cita-cita membangun umat Hindu yang mandiri dengan tingkat crada dan bakti tinggi.</p>
<p><em><br />
”Anak yang gilang gemilang dan berbakti akan<br />
</em><em>memberi keharuman bagi Ibu yang telah melahirkannya”</em></p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komangadi.net/2009/10/tantangan-menggulirkan-bddn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Piso Surit</title>
		<link>http://komangadi.net/2009/10/piso-surit/</link>
		<comments>http://komangadi.net/2009/10/piso-surit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 08:50:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komang adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komangadi.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[
Piso Surit

Piso surit&#8230; Piso surit&#8230;
terpingko pingko&#8230;Terdilo dilo&#8230;
Lalap la jumpo
Rasa tena ngena
I jakel kena
tengahna gundari
Siangna menda turang atena wari
Entah benari mata kena tertunduh
Aku nimaisa turang tangis terdiluh
Engo engo medage na
Mulih me ge kena
Bage manindu rupa ari o turang
(Djaga Depari)


No related posts.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/Chl2sAEyAk0&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/Chl2sAEyAk0&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object><br />
<a href="http://www.youtube.com/watch?v=Chl2sAEyAk0">Piso Surit</a></p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=Chl2sAEyAk0"></a><span id="more-102"></span><br />
Piso surit&#8230; Piso surit&#8230;<br />
terpingko pingko&#8230;Terdilo dilo&#8230;<br />
Lalap la jumpo<br />
Rasa tena ngena</p>
<p>I jakel kena<br />
tengahna gundari<br />
Siangna menda turang atena wari<br />
Entah benari mata kena tertunduh<br />
Aku nimaisa turang tangis terdiluh</p>
<p>Engo engo medage na<br />
Mulih me ge kena<br />
Bage manindu rupa ari o turang<br />
(Djaga Depari)</p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komangadi.net/2009/10/piso-surit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GURU</title>
		<link>http://komangadi.net/2009/08/guru/</link>
		<comments>http://komangadi.net/2009/08/guru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 01:39:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komang Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Klungkung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komangadi.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[<img class="alignleft size-full wp-image-92" title="Kapur tulis" src="http://komangadi.wordpress.com/files/2009/09/kapur-tulis.jpg" alt="Kapur tulis" width="135" height="135" />"Mereka adalah sedikit orang yang tercipta dengan kegembiraan untuk bisa memberi tanpa mengharap untuk menerima"

Guru sangat dekat dengan kehidupan saya. Orang tua keduaduanya adalah guru. Saya pernah tinggal di asrama guru. Saya begitu familiar dengan gaya hidup guru. Ikut menikmati canda tawa dan guyonan para guru, serta mengerti apa hal hal yang membuat seorang guru hatinya terhibur.


Related posts:<ol><li><a href='http://komangadi.net/2008/02/berfoto-dengan-pak-harto/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berfoto dengan Pak Harto'>Berfoto dengan Pak Harto</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><img class="alignleft size-full wp-image-92" title="Kapur tulis" src="http://komangadi.files.wordpress.com/2009/09/kapur-tulis.jpg" alt="Kapur tulis" width="135" height="135" />&#8220;Mereka adalah sedikit orang yang tercipta dengan kegembiraan untuk bisa memberi tanpa mengharap untuk menerima&#8221;</p></blockquote>
<p>Guru sangat dekat dengan kehidupan saya. Orang tua keduaduanya adalah guru. Saya pernah tinggal di asrama guru. Saya begitu familiar dengan gaya hidup guru. Ikut menikmati canda tawa dan guyonan para guru, serta mengerti apa hal hal yang membuat seorang guru hatinya terhibur.  <span id="more-91"></span></p>
<p>Guru masa SMP yang begitu saya ingat bernama Pak Sirna. Beliau kepala sekolah SMP 1 Klungkung. Karena desakan beliaulah saya mendaftar untuk mengikuti test ke SMA Taruna Nusantara. Saat itu sama sekali tidak ada niat untuk melanjutkan SMA merantau ke tanah Jawa. Merantau ke Denpasarpun saat itu belum terlintas dalam pikiran. Saya berterimakasih atas dukungan dan motivasi tak kenal henti dari beliau. Karena dukungannya saya mendapatkan pendidikan lanjutan yang cukup baik di SMA Taruna.</p>
<p>Pak Widiono adalah guru olahraga masa SMA. Saya kenang beliau atas kecintaannya terhadap anak didik yang bergabung dalam tim sepakbola. Saat pertama kali masuk asrama di SMA Taruna, saya dibelikan sepatu sepakbola oleh beliau. Ini adalah kalipertama saya memiliki sepatu sepakbola walaupun hobi main bola sudah sejak kanak kanak.</p>
<p>Apa yang mereka lakukan membekas hingga kini dihati. Mereka melakukan sesuatu tanpa mengharap untuk menerima dari anak didiknya. Pak Sirna dan Pak Widi adalah salah dua diantara puluhan guru yang memberi saya pengetahuan, perhatian serta membukakan kesempatan bagi masa depan yang lebih baik.</p>
<p>Saat ini didunia kerja yang begitu pragmatis, kehidupan dan alam menjadi guru saya. Berbagai kegagalan, kekecewaan dan penolakan-penolakan telah memberi saya pelajaran yang tidak terlupakan. Kegagalan yang pernah dialami saat mulai berbisnis memberi pelajaran untuk lebih fokus dalam menekuni bidang usaha.  Berbagai hujatan dan penolakan yang diterima dalam pemilihan ketua Peradah tahun 2006 memberi saya keteguhan hati untuk tetap berkarya, walaupun diarena yang berbeda. Berbagai perbedaan pandangan dan konflik yang saya jalani menumbuhkan kesabaran dalam menghadapi segala permasalahan.</p>
<p>Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak saya memiliki guru formal pertama kali. Hanya sedikit yang masih bisa saya temui hingga kini dibangku sekolah yang sama. Mereka sudah berpindah kesekolah yang lain. Ada yang sudah harus pensiun dan tidak sedikit yang almarhum.</p>
<p>Pada tanggal 17 Agustus 2009, merupakan hari terakhir Ayah saya mengajar di sekolah. Sejak hari itu ayah sudah resmi pensiun sebagai guru. Saatnya beliau istirahat setelah mendedikasikan diri sebagai guru sejak tahun 1979. Tiga puluh tahun sebagai pendidik dengan segala suka duka yang dialami sebagai seorang guru. Beliau berpisah dengan profesi formalnya disaat perhatian pemerintah kepada kesejahteraan para guru mulai terealisasikan.</p>
<p>Saya begitu bangga dengan profesi Ayah. Terkait profesinya, beliau sudah tak terhitung seringnya meminta kita agar jangan mengikuti jejak mereka. &#8221; Gaji guru kecil, hidup akan susah&#8221;, pesan Ayah disetiap kesempatan.</p>
<p>(Nengah Bargawa, 1979-2009, SGO Singaraja-SPG Klungkung-SMA 3 Klungkung)</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://komangadi.net/2008/02/berfoto-dengan-pak-harto/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berfoto dengan Pak Harto'>Berfoto dengan Pak Harto</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komangadi.net/2009/08/guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Air</title>
		<link>http://komangadi.net/2009/04/air/</link>
		<comments>http://komangadi.net/2009/04/air/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 00:11:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komang adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[Bekauh]]></category>
		<category><![CDATA[Besakih]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Tangkup]]></category>
		<category><![CDATA[Muncan]]></category>
		<category><![CDATA[Pudet]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[Tangkup]]></category>
		<category><![CDATA[Tangkup Anyar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komangadi.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[<img src="http://komangadi.wordpress.com/files/2009/04/water.jpg?w=150" alt="Water" title="Water" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-98" />Hari ini tanggal 7 April 2009. Dua hari menjelang Pemilu saya tandai sebagai hari air. Hari ini, mulai dilakukan pengeboran untuk membuat sumur di rumah adat kami di Desa Tangkup. Selama ini, air bersih diambil ke mata air yang adanya di tepi sungai. Untuk mencapainya kita harus berjalan sekitar satu kilometer. Untuk MCK juga sama, keluarga dan masyarakat yang tinggal di Desa Tangkup Anyar hampir seluruhnya mengandalkan air sungai Telaga Waja untuk aktivitas tersebut.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-98" title="Water" src="http://komangadi.files.wordpress.com/2009/04/water.jpg?w=150" alt="Water" width="150" height="112" />Hari ini tanggal 7 April 2009. Dua hari menjelang Pemilu saya tandai sebagai hari air. Hari ini, mulai dilakukan pengeboran untuk membuat sumur di rumah adat kami di Desa Tangkup. Selama ini, air bersih diambil ke mata air yang adanya di tepi sungai. Untuk mencapainya kita harus berjalan sekitar satu kilometer. Untuk MCK juga sama, keluarga dan masyarakat yang tinggal di Desa Tangkup Anyar hampir seluruhnya mengandalkan air sungai Telaga Waja untuk aktivitas tersebut.</p>
<p>Orang desa termasuk saya menyebut Sungai Telaga Waja sebagai Bekauh. Sebabnya sederhana sekali. Untuk menuju kesungai, dulu jalan satu-satunya adalah ke arah kauh (barat) desa. Setelah ditambahkan imbuhan Be, jadilah kami menyebutnya Bekauh. Sungai Bekauh ini berhulu di Desa Muncan, dekat dengan Besakih. Nama mata airnya Yeh Sah.<span id="more-88"></span></p>
<p>Dulu sampai berumur 5 tahun (1982-1983), saya menghabiskan banyak waktu di sungai. Mandi, mencari ikan atau sekedar main kapal-kapalan di Bekauh. Bekauh dulu dibanding sekarang telah banyak berubah. Dulu untuk mencapai sungai, kita mesti berjalan dibebatuan, kini jalanan sudah diaspal dan ada anak tangga bersemen. Dulu sungainya sangat deras, debit airnya besar, kini debit airnya telah jauh mengecil. Penebangan pohon besar-besaran berkurang jelas sekali telah membuat debit air kian hari kian menyusut. Dulu Bekauh belum dilintasi oleh perahu-perahu arung jeram, kini sepanjang sungai Telaga Waja telah dikapling-kapling oleh 4 perusahaan rafting.</p>
<p>Dari dulu, pemerintah menjanjikan akan ada air bersih masuk ke dalam rumah di Desa Tangkup. Janji itu saking seringnya diucapkan berulang-ulang, telah menjadi semacam legenda. Masyarakat tetap menunggu dengan sabar air bersih yang dijanjikan tersebut. Sembari menunggu dengan harap, masyarakat tetap dengan rutinitas MCK ke Bekauh.</p>
<p>Air yang melimpah ternyata belum tentu mudah dinikmat oleh warga Desa Tangkup. Sungai Telaga Waja adalah sungai terbesar di Bali. White water, sangat bening. Kalau pemerintah mau, sebenarnya air dengan mudah dapat dialirkan kedesa-desa sekitar sungai termasuk Desa Tangkup Anyar.<br />
Sudahlah, tidak usah kita perpanjang. Mungkin pemerintah lagi sibuk.</p>
<p>Sampai pada hari ini, kami keluarga Pudet membuat sumur bor. Bukan karena kami tidak percaya dengan pemerintah. Bukan juga karena kami tidak suka lagi untuk mandi ke Bekauh. Jaman telah berubah, generasi baru juga telah lahir. Generasi baru yang terlahir di kota sudah tidak bisa kompromi untuk  mandi beramai-ramai disungai. Tamu-tamu dari kota yang menginap di desa juga pasti sulit diajak mengerti untuk MCK ke Bekauh.</p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komangadi.net/2009/04/air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
