Hari ini tanggal 7 April 2009. Dua hari menjelang Pemilu saya tandai sebagai hari air. Hari ini, mulai dilakukan pengeboran untuk membuat sumur di rumah adat kami di Desa Tangkup. Selama ini, air bersih diambil ke mata air yang adanya di tepi sungai. Untuk mencapainya kita harus berjalan sekitar satu kilometer. Untuk MCK juga sama, keluarga dan masyarakat yang tinggal di Desa Tangkup Anyar hampir seluruhnya mengandalkan air sungai Telaga Waja untuk aktivitas tersebut.
Orang desa termasuk saya menyebut Sungai Telaga Waja sebagai Bekauh. Sebabnya sederhana sekali. Untuk menuju kesungai, dulu jalan satu-satunya adalah ke arah kauh (barat) desa. Setelah ditambahkan imbuhan Be, jadilah kami menyebutnya Bekauh. Sungai Bekauh ini berhulu di Desa Muncan, dekat dengan Besakih. Nama mata airnya Yeh Sah.
Dulu sampai berumur 5 tahun (1982-1983), saya menghabiskan banyak waktu di sungai. Mandi, mencari ikan atau sekedar main kapal-kapalan di Bekauh. Bekauh dulu dibanding sekarang telah banyak berubah. Dulu untuk mencapai sungai, kita mesti berjalan dibebatuan, kini jalanan sudah diaspal dan ada anak tangga bersemen. Dulu sungainya sangat deras, debit airnya besar, kini debit airnya telah jauh mengecil. Penebangan pohon besar-besaran berkurang jelas sekali telah membuat debit air kian hari kian menyusut. Dulu Bekauh belum dilintasi oleh perahu-perahu arung jeram, kini sepanjang sungai Telaga Waja telah dikapling-kapling oleh 4 perusahaan rafting.
Dari dulu, pemerintah menjanjikan akan ada air bersih masuk ke dalam rumah di Desa Tangkup. Janji itu saking seringnya diucapkan berulang-ulang, telah menjadi semacam legenda. Masyarakat tetap menunggu dengan sabar air bersih yang dijanjikan tersebut. Sembari menunggu dengan harap, masyarakat tetap dengan rutinitas MCK ke Bekauh.
Air yang melimpah ternyata belum tentu mudah dinikmat oleh warga Desa Tangkup. Sungai Telaga Waja adalah sungai terbesar di Bali. White water, sangat bening. Kalau pemerintah mau, sebenarnya air dengan mudah dapat dialirkan kedesa-desa sekitar sungai termasuk Desa Tangkup Anyar.
Sudahlah, tidak usah kita perpanjang. Mungkin pemerintah lagi sibuk.
Sampai pada hari ini, kami keluarga Pudet membuat sumur bor. Bukan karena kami tidak percaya dengan pemerintah. Bukan juga karena kami tidak suka lagi untuk mandi ke Bekauh. Jaman telah berubah, generasi baru juga telah lahir. Generasi baru yang terlahir di kota sudah tidak bisa kompromi untukĀ mandi beramai-ramai disungai. Tamu-tamu dari kota yang menginap di desa juga pasti sulit diajak mengerti untuk MCK ke Bekauh.
No related posts.






0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.